Depok Jakarta di Minggu Pagi

WP_20140608_013
Azzis, Saya, Jepang (Fauzan), Berkah, Dio, Tama, Brojo, Firman, Agung (dibelakang kamera Aisyah dan Meigy)

Saya punya cerita yang agak ga jelas lagi. Cuma yang ini lebih seru.

Baru aja kemaren hari Minggu saya pergi Car Free Day, tiba-tiba saya teringat kisah seru dan….ga jelas. Kira-kira waktu saya kelas 11 lah dan CFD ini lagi tenar-tenarnya .

Untuk cerita yang satu ini saya bakal nyebutin nama-nama tokohnya gak kayak yang udah-udah.


Berawal dari rencana dan ayo-ayoan kami ber sembilan akhirnya kami berhasil CFD-an rame-rame naik sepeda.

hmmm…saya punya kesalahan. Di H-1 alias hari Sabtunya…saya baru ngebetulin sepeda. Saya betulin dari rantai yang udah berkarat sampai ban, tapi untuk ban ada masalah. Ban depan saya agak bocor alus, jadi kalo bannya dipompa kira-kira 30 menit sudah kurang angin lagi. Tapi entah saya apakan waktu sampai bisa bertahan lama. Yaa…syukur.

Paginya jam 5, saya cek lagi ban sepeda saya dan syukurnya ga bocor sama sekali hahaha. Tapi pas cek ban belakannya….ternyata yang bocor jadi ban belakang…ini mistis.

“Dih apaan sih?” “kemaren ga napa-napa juga” -_-

yaa..saya ngedumel sendiri pagi-pagi…

Yaa lagi bingung juga, jam 5 pagi mana ada tambal ban udah siap sedia dengan peralatannya…

Saya coba untuk memompanya…dan menaikinya sekalian pergi berangkat (saya tidak mau membatalkan janji secara mendadak) tapi cuma 25 meter akhirnya bannya kempes lagi…Yaaa mau ga mau…harus nenteng sepeda sekalian mencari tukang tambal ban. Saya bawa sepeda itu dari pertigaan Masjid Al-Huda sampai………………………………..Detos. Ya. Depok Town Square. Saya sih ketemu tukang tambal ban di pertigaan Jalan Juanda..tapi ia sedang tidur…

“mas…?” “oi…mas?” “masss??”

dan ga bangun-bangun…sehingga saya berpikir bahwa saya bukanlah rezekinya…Allah yang mengatur rezeki mahluk ciptaannya.

Sampai di Detos ada temen saya namanya Tama sudah menunggu. Saya langsung banting sepeda dan dia ngomong ke saya,

“Buset lama banget, cuma gua doang ini dari tadi”

sekiranya begitu. Saya cuma bisa ngomong

“Liat aja itu ban, gua nenteng ini sepeda dari Al-Huda sampe sini”

Akhirnya sambil nunggu yang lain yang ternyata ngaret juga dengan alasan yang kurang bijak (Re: Kesiangan), saya pergi meninggalkan Tama untuk nyari tukang tambal ban. Masuk ke Pocin dan ternyata tidak ada sama sekali tukang-tukangan, sampai saya berjalan ke arah tugu selamat datang, ternyata di tengah perjalanan ada tukang tambal ban. Damn! senangnya hati ini! Yaa akhirnya dia ngebantu saya…entah itu ban disundut pake rokok segala saya tidak mengerti. Dia cuma bilang bahwa ban yang ditambal ini tidak akan bertahan lama. Hmmm iyaa agak krusial setidaknya ada yang mengobati “kaki” dari sepeda saya ini dulu walaupun hanya sementara. Di samping itu semua, teman-teman saya sudah menunggu di gapura selamat datang di Kota Depok sejak saya mencari tukang tambal ban di sekitar Stasiun Pocin.

Bertemu teman di gapura dan langsung melanjutkan perjalanan ke bundaran HI dengan bermodalkan Maps di hape.

Dari gapura selamat datang sampai ke Semanggi hanya 1 Jam, saya juga tidak mengerti, padahal kami sering berhenti untuk memompa ban sepeda…saya. ya sepeda saya. mungkin ini yang namanya relativitas.

Di CFD tersebut…yaa..saya berpikir

“Ya ampun mana ada yang jualan ban di sini, kalau pun ada pasti harganya mahal.”

jangankan yang jualan ban dalam sepeda..tukang pompa saja pasti tidak ada.

Tapi ternyata dugaan saya salah. Ternyata di tengah-tengah keramaian CFD tersebut ada tukang pompa sekaligus juga penjual ban sepeda. Yaa dia sangat berjasa sekali…ga tanggung-tanggun saya beli 2 ban dalam sekaligus, satu buat cadangan…

Ada kejadian agak menegangkan saat saya dan teman-teman saya menunggu giliran ban saya diganti. Ketika itu ada bapak-bapak yang menunggu sepeda anaknya diperbaiki bannya juga pastinya. Tapi baru setengah jalan tukangnya bekerja, bapak-bapak ini tidak sabar dan ia malah marah-marah. Yaa…agaknya dia marah-marah seperti “Kayak gini aja kok lama!” begitulah. Bapak-bapak ini langsung pergi, tapi tukang ban sepeda ini minta bayaran. Tapi bapak-bapak ini malah marah dan mendekati tukang ban, seperti halnya kucing bertengkar yaa saling mendekatkan kepala. Saya ingat tukang ban itu bilang,

“Sampean gak sabaran sih, langsung pergi gak mau bayar”

seperti itulah kurang lebihnya yang tukang ban itu ucapkan. Jujur saja, saya yang melihat ini menunggu siapa yang membuat “first blood”  dulu barulah saya lerai, tapi untungnya salah satu teman saya, Berkah namanya langsung melerai. Daaann saya ingat lagi bapak itu malah bilang,

“Kamu diem yaa, kamu ga tau apa-apa!” (Sambil nunjuk ke arah mukanya Berkah)

Yaaa…walaupun pada akhirnya berkat peleraian tersebut Tukang ban tersebut dibayar oleh Istri dari bapak tersebut. Memang waktu itu bapak tersebut membawa satu anak dan istrinya, yaa…pastinya tidak enak kalau harus bertengkar di depan mereka apalagi di tengah keramaian…btw..bapak-bapaknya mirip Carlos Tevez.

Selesai diperbaiki dan langsung menuju Monas. Ramai tidak dapat dihindari. Terlebih lagi waktu itu di Monas ada acara dan karena itu lah, kami malah memutuskan untuk berbalik dan beristirahat di Bundaran HI.

Di Bundaran HI kami malah bertemu dua teman perempuan dari kelas kami, namanya Aisyah dan Meigy. Ternyata mereka juga CFD-an juga hari ini.

Selesai berdiam, beristirahat dan berfoto ria di HI kami langsung melanjutkan perjalanan unutk pulang karena sudah pukul 10.00 WIB.

Saya ingat ketika Agung meminta saya untuk ganti sepeda dengan saya dengan alasan coba-coba gimana rasanya mengendarai sepeda saya ini. Hanya berlangsung selama 5 Menit dan Agung bilang ke saya,

“San, sakit banget jok sepeda lu”

Yaa..emang sakit…mungkin mereka pikir saya tidak merasa kesakitan dari awal menaiki sepeda ini…

Saya lupa…kalau tidak salah kami pulang lewat Semanggi lagi dan tiba-tiba ada di gedung DPR RI. Hal yang pertama saya pikirkan waktu itu adalah,

“Waaaaw, gerbang yang besaaar”

Tapi masih lebih besar gerbang sekolah di atas jam 07.00 pagi….itu kalau kalian mengerti maksud saya.

Kamii berjalan menuju ke bawah, mengambil jalan memutar, dan naik ke flyover….dan yaampuuun…tepat di persilangan antara yang di kanan mau ke kiri dan yang dari kiri mau ke kanan rantai sepeda saya putus! saya kebingungan, “Loh, kok tiba-tiba enteng?”. Yaa saya berlari sambil memegang stang sepeda saya sambil ditinggal oleh semua teman saya kecuali Tama yang menyadari bahwa saya ketinggalan. Saya cuma meratapi rantai sepeda saya dari pinggir trotoar sambil berpikir,

“Bagus, sekarang kita harus menemui tukang rantai…….”

Tapii langsung teringat bahwa saya selalu membawa peralatan sepeda saya. Kalau orang-orang bilang saya ini langsung gerak cepat atau Gercep hahaha atas dasar pemikiran saya tidak mau merepotkan teman saya lagi. Akhirnya rantai sepeda saya, saya buang sebagian dan saya sambung…jadinya rantai sepeda saya pendek.

Saya langsung menghampiri teman-teman saya yang ada di balik Flyover tersebut. “Gua kira lu ketabrak, San” Agung malah berkata hal tersebut kepada saya…dasar.

Pulang dari CFD-an ini entah mengapa menjadi sangat terasa melelahkan. Mulai dari panas dan ramainya jalanan membuat kami cepat lelah. Kami berhenti di Seven Eleven di daerah Pasar Minggu. Kami diam di sana sampai 1 Jam dan waktu itu jam 12 kurang. Ya…pulangnya malah lebih lama.

Di Pasar Minggu kami salah belok sehingga kami keluar di sebelah kiri Universitas Tama Jagakarsa. Seharusnya kami yang menaiki sepeda boleh laah curang-curang nenteng sepeda biar langsung lurus terus dan langsung masuk Jalan Lenteng Agung, tapi kami malah belok belok kiri dan muter seakan-akan kami naik mobil. Ada dua teman kami yang lurus terus langsung ke Jalan Lenteng Agung yaa si Firman dan Brojo.

Selama terpisah dan kami sudah masuk ke Lenteng Agung, Brojo dan Firman tidak bisa dihubungi sampai kami memutuskan untuk berhenti untuk minum es kelapa di depan SMAN 38 Jakarta kalau tidak salah. Sembari istirahat kami juga berusaha menghubungi kedua teman kami.

Panas dan lelah pastinya. Es Kelapa ternyata malah bikin tambah haus hahaha. Yang saya pikirkan waktu itu saya ingin cepat cepat pulang.

Singkat cerita perjalanan pulang, saya pulang ke rumah dan sebagian teman saya pulangnya ke rumah Brojo karena mereka meminjam sepedanya. Padahal Brojo nya masih tidak tau di mana.

WP_20140608_09_17_58_Pro WP_20140608_002  WP_20140608_09_17_54_Pro

btw…besoknya di sekolah, saya diperlihatkan hapenya Brojo. Ternyata layar hapenya retak, penyebab semua itu karena ia kesal tidak bisa menghubungi saya dan teman-teman saya yang terpisah dengannya. Akhirnya dia getok hapenya ke batu. Mengerikan….


MUHAMMAD IKHSAN

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s